Semester II, Omzet Industri Mamin Olahan Bakal Capai Rp 560 T

Jakarta – Nilai omzet industri makanan dan minuman (mamin) olahan pada semester II-2016 diyakini mencapai Rp 540 triliun, atau naik lebih dari 8% dibanding periode sama tahun lalu. Membaiknya daya beli dan peningkatan produksi industri menjadi penopang pertumbuhan pada semester ini. “Saya yakin dengan data-data yang begitu bagus, pertumbuhan industri mamin pada semester II ini bisa di atas 8%,” kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman, baru-baru ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan produksi industri makanan besar dan menengah pada kuartal II-2016 mencapai 10,39% dibanding kuartal I-2016, dan 5,17% dibanding kuartal II-2015. Industri minuman besar dan menengah juga meraih pertumbuhan produksi sebesar 3,14% pada kuartal II-2016 dibanding kuartal I-2016, dan 2,07% dibanding kuartal II-2015. Pertumbuhan juga terjadi di industri mikro dan kecilnya. Tercatat, pertumbuhan produksi industri makanan mikro dan kecil pada kuartal II-2016 mencapai 5,87% dibanding kuartal sebelumnya, dan 6,49% dibanding periode sama tahun lalu. Sementara di industri minuman mikro dan kecil, pertumbuhan produksinya mencapai 9,43% dari kuartal I-2016, dan 14,42% dibanding kuartal II-2015. Adhi optimistis, apabila stabilitas ekonomi mampu dijaga, dan pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan yang menghambat, angka pertumbuhan di atas 8% bakal tercapai. Terlebih, saat ini daya beli masyarakat mulai pulih seiring membaiknya beberapa harga komoditas. “Agustus, permintaan mamin sudah kelihatan meningkat lagi setelah bulan sebelumnya banyak libur,” ujar dia. Secara umum, kata Adhi, omzet industri mamin sepanjang 2016 ditargetkan Rp 1.400 triliun, naik 8% dibanding tahun lalu. “Dari angka itu, semester I mengontribusi sekitar 60%, dan 40% di semester II,” terang dia. Meski, Adhi mengaku, beberapa rencana kebijakan pemerintah masih mengkhawatirkan bagi industri. Misalnya saja, rencana pengenaan cukai pada kemasan plastik, yang dinilai berdampak signifikan terhadap pertumbuhan industri. Selain itu, aturan perpajakan yang ada saat ini pun masih membingungkan pengusaha, karena banyak data yang kurang sesuai sehingga menjadi hambatan. Eva Fitriani/EVA Investor Daily

Sumber: BeritaSatu