Ranieri Dipecat, Inilah Potret Sepak Bola Kekinian

Bunyinya begini: Champion of England and FIFA MANAGER of The YEAR sacked. Thats the new football claudio. Keep smiling Amico. Nobody can delete the history you wrote. Tulisan itu merupakan narasi dari foto Mourinho yang menggandeng Ranieri. Keduanya tesenyum lepas. Saya awalnya tak percaya dengan tulisan itu. Meski, saya tahu kabar itu bukan hoax. Sebab, itu akun resmi Mourinho yang setahu saya tidak pernah memuat kabar isu apalagi rumor bohong. Saya baru percaya kabar itu ketika membuka Daily Mail pagi ini. Ada berita dengan tulisan dengan judul besar Ranieri Sacked by Leicester. Lead beritanya, Ranieri dipecat setelah 298 hari membawa klub itu juara untuk kali pertama dalam sejara 133 tahun klub. Pemecatan itu diumumkan oleh Vice Chairman Leicester, Aiyawatt Srivaddhanaprabh yang menyebut ini keputusan tersulit yang harus dibuat demi masa depan jangka panjang klub itu. Daily Mail menyebut pemecatan Ranieri itu sebagai keputusan yang brutal, juga kejam. Ada banyak angle yang diulas media ini. Diantaranya komentar kekagetan pundit football di Inggris perihal pemecatan itu. Daily Mail menampilkan komentar Jamie Redknapp yang menyebut tak seharusnya Ranieri dipecat. Ia seharusnya diganjar kontrak baru berdurasi lima tahun. Pers Inggris juga mengulas siapa calon penggantinya dari mulai Roberto Mancini, Guus Hiddink hingga Martin ONeill. Serta, ada tampilan Ranieri Picture Special yang menampilkan foto-foto kala Ranieri merayakan gelar juara Liga Inggris pekan lalu bersama anak asuhnya. Memang, kabar pemecatan Ranieri sempat mengemuka sejak Januari lalu tatkala penampilan Leicester di Liga Inggris menurun bak mobil yang tergelincir ke jurang. Leicester kini ada di peringkat 17 (satu strip di atas zona degradasi) dan hanya berselisih satu poin) dengan mengumpulkan 21 poin dari 25 laga. Bandingkan dengan musim lalu kala Leicester kokoh di puncak klasemen dengan jumlah poin dua kali lipat. Media Inggris bahkan sempat membuat polling dengan pertanyaan apakah Ranieri akan dipecat atau tidak. Pers Inggris menyebut, pertaruhan nasib Ranieri ada pada performa Leicester di babak 16 besar Liga Champions. Dan, Leicester kalah 1-2 di laga pertama di markas klub Spanyol, Sevilla. Toh, hasil 2-1 di markas lawan itu disikapi positif oleh pers Inggris. Sebab, Leicester mampu mencetak satu gol di markas lawan dan mereka hanya butuh kemenangan 1-0 di kandang pada laga kedua. Bahkan, beberapa pundit optimistis, Si Rubah Biru ini akan lolos ke perempat final. Tapi yang terjadi, Ranieri dipecat. Lalu kenapa Ranieri dipecat? Alasannya sangat mungkin seperti yang dialami Mourinho kala dipecat Chelsea musim lalu. Kala itu, Mou juga baru mempersembahkan gelar Liga Inggris untuk Chelsea. Namun, performa Chelsea merosot. Berawal dari konflik nya dengan dokter tim, lalu muncul mosi tidak percaya beberapa pemain Chelsea terhadap Mou. Pemain bintang seperti Eden Hazard, Diego Costa dan Cesc Fabregas disebut tampil malas-malasan karena kurang suka dengan Mou. Pers ikut memanas-manasi dengan membelah siapa pemain yang pro Mou dan yang kontra Mou. Akhirnya, manajemen Chelsea pun memecat pelatih terbaik dalam sejarah klub mereka. Ranieri pun begitu. Pekan lalu, pers Inggris memuat berita perihal kegusaran Ranieri karena beberapa pemain bintang Leicester tidak tampil maksimal seperti musim lalu. Mereka yakni tiga pemain yang jadi pilar utama sukses Leicester juara: Riyad Mahrez, Jamie Vardy dan Danny Drinkwater. Ketiganya juga kerap jadi sasaran kritik para pundit. Ranieri seolah sudah kehabisan cara untuk meningkatkan penampilan ketiganya. Sebelum melawan Sevilla, dia bahkan bilang pemainnya seharusnya bisa seperti prajurit yang siap mati di lapangan. Manajemen Leicester mungkin beranggapan, bila Ranieri diganti, sosok pelatih baru akan bisa menghadirkan semangat baru pemain-pemain bintang tersebut.

Ranieri memeluk Jamie Vardy usai laga melawan Sevilla/Daily Mail
Tapi yang jelas, seperti tulisan Mourinho di akun Instagram nya, inilah gambaran wajah sepak bola terbaru. Sepak bola era kekinian. Di mana ada banyak pemilik klub yang berpikiran pragmatis dan teramat mudah melupakan jasa pelatihnya. Para bos klub itu berpikir merekalah yang menggaji pelatih sehingga mudah saja memecat seorang pelatih dan menggantinya dengan pelatih lainnya. Karenanya, seorang pelatih yang sukses besar, tidak ada jaminan baginya bisa bertahan lama di sebuah klub. Sebab, sukses itu sudah masuk buku sejarah. Hari ini adalah cerita yang berbeda. Satu kegagalan akan membuatnya terancam dipecat. Tidak ada kesempatan kedua baginya. Dan itulah yang terjadi pada Ranieri. (*)

carhartt-japan.com indotogel hongkong Sumber: Kompasiana