Menkeu Ragu Presiden Baru Berani Tarik Subsidi BBM

Rimanews – Presiden baru Indonesia diharapkan meningkatkan kinerja untuk pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah nantinya akan sangat membutuhkan ruang fiskal sebagai pijakan program kerja sektor ekonomi. “Saya kira ruang fiskal tidak ada, maka fiskal kita tidak akan menjadi baik dan berkualitas serta mendorong pertumbuhan,” papar Chatib, Rabu (23/7). Baca Juga Listrik dan BBM aman untuk natal dan tahun baru Solar tak naik, Pertamina mengaku rugi Harga Premium dan Solar Tetap hingga Maret 2017 Pertamina Jamin Stok BBM Akhir Tahun Aman Pertamina Naikkan Harga Pertalite Rp 150/Liter Kebijakan fiskal memiliki peran penting bagi menjaga daya saing Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah harus membangun sarana infrastruktur serta meningkatkan kualitas program reformasi birokrasi untuk kebutuhan ekonomi. Chatib mengusulkan pemerintah berani menaikkan harga BBM bersubsidi disertai subsidi tetap. Sehingga angka fleksibilitas subsidi tetap Rp 200 triliun. Dia menyadari pemerintah akan berpikir berulang kali karena langkah tersebut melawan arus opini masyarakat dan tidak sesuai janji politik. “Setiap kenaikan harga BBM ada implikasi ke inflasi bisa berpotensi meningkatkan penduduk miskin, jadi harus ada mitigasi, jangan sampai penduduk miskin terbebani oleh inflasi,” ungkapnya. Apabila penyesuaian BBM terjadi, pemerintah sebaiknya melakukan penarikan subsidi di aawal tahun untuk meringankan beban APBN. Saat ini, pemerintah berdiskusi mengenai RAPBN 2015. Anehnya, rancangan tersebut tidak mendengarkan pendapat dari Presiden baru terpilih. “Kalau dilakukan lebih awal akan lebih bagus. Misalnya, dinaikkan Rp1.000 dengan kuota 48 juta kiloliter, maka bisa menghemat Rp48 triliun, kalau dilakukan pertengahan tahun hanya setengahnya Rp24 triliun,” ucapnya. Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : APBN , Presiden , bbm , subsidi , Chatib Basri , fiskal

Sumber: RimaNews