Tingkatkan Potensi Maluku, Buka Jalur Transportasi

Jakarta – Wakil Gubernur (Wagub) Maluku, Zeth Sahuburua menyayangkan Provinsi Maluku masih berada di posisi keempat sebagai provinsi miskin di Tanah Air, berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Padahal, memiliki sumber daya ikan mencapai 1,72 ton per tahun atau setara dengan 26 persen potensi sumber daya ikan nasional. “Kontribusi Maluku terhadap produksi perikanan nasional adalah yang tertinggi, yaitu 9,67 persen atau di atas rata-rata nasional 3,03 persen,” kata Zeth dalam seminar bertemakan Kekuatan Maritim di Maluku, yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (22/9). Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti yang diundang juga sebagai pembicara juga mengakui potensi besar di sektor kelautan yang dimiliki Maluku, mulai dari perikanan sampai pariwisata. Untuk itu, guna membangun sektor kelautan di Maluku, Susi menjanjikan alokasi dana sebesar Rp 300 miliar khusus untuk Maluku yang diambil dari anggaran Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2017. Namun, lanjutnya, Maluku tetap memerlukan investasi di sektor industri guna mengurangi tingkat kemiskinan di wilayah yang kaya akan sumber daya ikan tersebut. Tetapi, mengundang investasi memerlukan sarana pendukung, seperti ketersediaan transportasi dan listrik. Oleh karena itu, menteri yang terkenal dengan kebijakan penenggelaman kapal ini, mendorong agar jalur transportasi dari dan ke semua wilayah di Maluku dibuka. Termasuk, sarana transportasi ke luar negeri, seperti Darwin, Australia ataupun ke Republik Palau. “Buka penerbangan langsung (ke Maluku) maka investasi akan masuk,” kata Susi. Menurut Susi, dengan keterbukaan jalur perhubungan tidak hanya menstimulasi masuknya investasi tetapi juga mampu mengurangi ketimpangan harga yang selama ini terjadi di Indonesia bagian timur. Susi mencontohkan, dengan membuka penerbangan internasional dari Saumlaki (ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat) ke Darwin, Australia atau sebaliknya maka akan mempermudah pengiriman dua negara. Selain itu, masyarakat di Maluku juga akan mendapatkan harga bahan pangan yang lebih murah karena tidak memerlukan biaya besar dengan mendatangkannya dari Jakarta. Kemudian, lanjutnya, penerbangan juga bisa dibuka ke Republik Palau yang letaknya hanya 200 km sebelah utara provinsi Papua Barat, 255 km sebelah timur provinsi Maluku Utara. Dengan kata lain, bisa ditempuh dengan kurang lebih satu jam penerbangan. Dibandingkan, harus ke Jakarta yang menempuh berjam-jam penerbangan. “Ongkosnya besar kalau harus transit ke Makassar atau Jakarta dahulu. Oleh karena itu, kuncinya direct gateway. Kalau jalur tidak dibuka maka 10 tahun kemudian (Maluku) akan begitu terus). Ongkos mahal, ikan harga Rp 15.000 tetapi biaya pengirimannya saja bisa Rp 50.000,” ujarnya. Lebih lanjut, Susi mengungkapkan kesediaan Garuda Indonesia Airlines membuka jalur penerbangan Saumlaki-Darwin dan sebaliknya. Dengan catatan, mendapatkan subsidi sebesar US$ 2.000 per jam. Garuda Siap Buka Jalur Penerbangan Saumlaki-Darwin Secara terpisah, Direktur Garuda Indonesia Airlines, Arif Wibowo mengaku akan mempertimbangkan membuka rute penerbangan Saumlaki-Darwin dan sebaliknya, dalam waktu dekat. “Rute penerbangan ke Saumlaki sedang dipikirkan apakah dari Ternate atau Darwin,” kata Arif yang juga menjadi pembicara dalam seminar menuju Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2017, yang akan diselenggarakan di Maluku. Hanya saja, secara terang-terangan Arif meminta dukungan pemerintah provinsi (pemprov) Maluku untuk turut mempromosikan penerbangan ke sejumlah daerah di kepulauan Maluku. Sebagaimana, kerja sama yang terbangun dengan pemerintah kabupaten (pemkab) Banyuwangi. Dipaparkan Arif, awalnya Garuda ragu membuka rute penerbangan langsung ke Banyuwangi menggunakan pesawat jenis ATR. Tetapi, dengan banyaknya kegiatan yang diselenggarakan oleh pemkab, lebih dari 36 event dalam setahun, akhirnya pelayanan penerbangan ke sana ada setiap harinya. Bahkan, akan dikoneksikan ke sejumlah wilayah sekitarnya. “Kalau mengandalkan promo Garuda sendiri tidak kuat. Oleh karena itu, kalau bisa dibuat dahulu perencanaan kegiatan atau event yang akan diselenggarakan di Maluku dan sekitarnya,” ujarnya. Seperti diketahui, Provinsi Maluku memiliki luas daratan 47.350,42 kilometer (km) persegi dan dengan luas perairan 658.294,69 km persegi. Ditambah lagi, dengan keberadaan lebih dari 4.000 pulau membuat daerah kepulauan yang namanya diambil dari kata “Moluccas” yang berarti pulau rempah-rempah tersebut, memiliki banyak potensi. Mulai dari, perikanan sampai pariwisata. Novi Setuningsih/FMB Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu