MTF Bukukan Pembiayaan Rp 12 Triliun

Jakarta – PT Mandiri Tunas Finance (MTF) membukukan pembiayaan mencapai Rp 12 triliun hingga Agustus 2016, meningkat 15,38% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Direktur Pemasaran MTF Harjanto Tjitohardjojo menjelaskan, kendaraan penumpang baru masih mendominasi pembiayaan perseroan dengan komposisi 73,26%. ”Sisanya dikontribusi oleh pembiayaan alat berat dan motor besar,” jelas dia kepada Investor Daily, Selasa (6/9). Tahun ini, perseroan menargetkan membukukan pembiayaan sebesar Rp 18 triliun. Untuk mencapai target tersebut, Harjanto mengungkapkan, pihaknya aktif mengikuti berbagai pameran, salah satunya adalah pada Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) yang berhasil membukukan transaksi Rp 380 miliar. Sementara itu, pada periode Januari-Juni 2016, realisasi pembiayaan perseroan mencapai Rp 9,7 triliun, tumbuh 24% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Direktur Utama MTF Ignatius Susatyo Widjojo menjelaskan, pembiayaan mobil baru masih mendominasi pembiayaan perseroan sebesar 96%. Kontribusi ini juga meningkat dibandingkan pada akhir 2015 yang baru mencapai 94%. Berbeda dengan penyaluran pembiayaan yang tumbuh 24%, jumlah kendaraan yang dibiayai hanya tumbuh 4,3%. Pasalnya, perseroan menggeser segmen pembiayaan yang sebelumnya banyak ditujukan untuk pembiayaan mobil niaga, bergeser menjadi pembiayaan untuk mobil penumpang. “Ini karena pergeseran segmen, ticket size kendaraan yang dibiayai juga meningkat, dari sebelumnya dengan harga mobil di kisaran Rp 110 juta meningkat menjadi harga mobil Rp 150-160 juta,” kata dia. Berbeda dengan pembiayaan yang tumbuh 24%, perolehan laba perseroan hingga Juni 2016 tumbuh 9,6%. Direktur Keuangan Ade Cahyo Nugroho mengungkapkan, perolehan laba perseroan ditopang oleh pendapatan yang meningkat 32% mencapai Rp 1,2 triliun. Namun demikian, di sisi lain, rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) pada Juni 2016 mencapai 1,28%, naik dibandingkan Juni 2015 yang sebesar 1,1%. Peningkatan NPF ini membuat perseroan harus mengalokasikan biaya pencadangan sebesar 160,46% sehingga mempengaruhi perolehan laba. “Jadi, pertumbuhan laba juga dipengaruhi oleh NPF, namun secara efisiensi kami termasuk yang paling efisien dengan cost to eficiency ratio (CER) di angka 43%,” jelas dia. Tahun ini, perseroan menargetkan perolehan laba sebesar Rp 333 miliar. Harjanto menjelaskan, untuk mencapai target tersebut MTF akan meluncurkan inovasi produk dan program pembiayaan mobil baru. Hingga akhir Agustus, program undian Bebas Bahan Bakar 1 Tahun masih bisa didapatkan oleh konsumen yang membeli mobil secara kredit melalui MTF. MTF juga memberikan program pembiayaan lain untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat diantaranya yaitu program pembiayaan multiguna dan program trade-in. Gita Rossiana/ARS Investor Daily

Sumber: BeritaSatu